Nasional ENSIKLOPEDI NU

Misbahul Wathan

Senin, 3 September 2012 | 04:00 WIB

Misbahul Wathan, yang berarti Pelita Tanah Air, merupakan madrasah yang didirikan mantan ketua PBNU (1950-1954) dan Menteri Agama sejak Kabinet Hatta, KH. Masjkur, tahun 1923 di Singosari, Malang, Jawa Timur.

<>

Mula-mula, sekolah ini hanya menerima beberapa siswa laki-laki.  Saat itu belajar bersama antara laki-laki dan perempuan bukan pemandangan lazim. Bau sekitar tahuna 1933an, siswa perempuan dibolehkan belajar bersama dengan laki-laki, dengan pemisah selembar papan, yang dikenal dengan nama satir. 

Di masa-masa awal, sekolah ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya datang dari panguasa, yaitu asisten wedana dan camat setempat. 

Hampir tiap hari pemuda Masjkur dipanggil datang ke kantor untuk ditanya pelajaran apa saja yang diberikan kepada murid-murid. Keadaan ini menyebabkan tidak banyak masyarakat yang mau mengirimkan anak-anaknya belajar di Misbahul Wathan. 

Kendala ini kemudian sempat disampaikan kepada gurunya, KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Kiai Hasyim Asy’ari lantas menyarankannya menemui Kiai Wahab Hasbullah di Surabaya.

Dari pertemuan dengan menantu Kiai Haji Musa itu, Masjkur disarankan mengganti madrasahnya degan nama Nahdlatul Wathan, sekaligus menjadi cabang Nahdlatul Wathan Surabaya. Perubahan itu diikuti dengan model pengajaran yang biasa dikembangkan Nahdlatul Wathan.

Dengan penuh takdim, nasihat itu diikuti Kiai Masjkur. 

Selama di Surabaya, ia juga sempat diajak KH Wahab Hasbullah ke pertemuan intelektual keagamaan Tashwirul Afkar yang dikembangkan Kiai-Kiai muda seperti Mas Alwi, Mas Mansur, dan Kiai Ridwan. Di kemudian hari, tiga orang yang disebut ini menempuh jalan masing-masing.

KH. Wahab Hasbullah selanjutnya datang ke Singosari dan membawa KH. Masjkur ke kantor kewedanan sembari memberitahu jika madrasah milik KH. Masjkur adalah cabang dari Nahdlatul Wathan, Malang.

Sejak itu pihak penguasa setempat tidak lagi memanggil KH. Masjkur ke kewedanan. Madrasah ini kemudian berkembang lumayan pesat. Pasca kemerdekaan, dengan berbagai jenjang pendidikan, madrasah ini berganti dengan Nahdlatul Ulama. (Alamsyah M Djafar