Kesehatan

Krisis Kesehatan: Cuci Darah hingga Diabetes pada Anak-Anak Meningkat

Kamis, 25 Juli 2024 | 13:31 WIB

Krisis Kesehatan: Cuci Darah hingga Diabetes pada Anak-Anak Meningkat

Seorang anak yang sedang dirawat (Ilustrasi: lovist.org)

Jakarta, NU Online
Beberapa waktu yang lalu viral sebuah video tentang seorang siswa SMA berusia 18 tahun harus rutin menjalani cuci darah. Dalam seminggu siswa bernama Farhan itu cuci darah sebanyak 3 kali yaitu setiap Senin, Rabu, dan Sabtu.


“Kelas 3 SMA, 18 tahun tinggal di Depok,” kata M Farhan dalam video tersebut menjawab pewawancara. Farhan yang masih mengenakan seragam sekolah tampak ditemani ibunya.


Farhan menjalani cuci darah di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan. 


“Sejak tahun 2020, hampir 4 tahun. Seminggu 3 kali, bukan cuma satu kali,” kata ibu Farhan sambil menangis.


Kepada pewawancara, M Farhan mengaku dirinya tidak pernah minum air putih. 


“Minumannya kemasan terus. Sejak kecil,” kata M Farhan kemudian mengatakan dirinya memang kurang suka minum air putih.


Diabetes pada anak meningkat 70 persen
Bukan hanya pada remaja, tingginya angka cuci darah juga terjadi pada anak-anak. Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso mengatakan kasus diabetes tipe 1 pada anak usia 12 sampai 18 tahun mengalami kenaikan hingga 70 persen. Data ini diperoleh IDAI dalam rentang waktu antara 2010 hingga 2023.


Naiknya kasus diabetes tipe 1 pada anak ini dikarenakan banyak orang tua yang sudah mulai sadar akan kondisi kesehatan anak. Sehingga, mereka membawa sang anak untuk memeriksakannya ke dokter.


"Naik 70 persen. Masalah diabetes (anak) tipe 1 memang ada kenaikan, salah satu penyebabnya adalah deteksinya bagus," ujar dr Piprim kepada wartawan di Jakarta Pusat, Selasa (23/7/2024) dikutip dari Detik Health.


Gaya hidup yang buruk
Jumlah anak yang mengalami diabetes tipe 2 juga tak kalah banyaknya. Menurut dr Piprim, banyaknya kasus diabetes pada anak disebabkan oleh gaya hidup mereka yang buruk.


"Kalau tipe 2 (meningkat) karena lifestyle. Tidak dipungkiri sekarang ini kejadian obesitas meningkat pada anak-anak. Sekitar 80 persen anak diabetes itu disertai obesitas," kata dr Piprim.


Oleh karena itu dr Piprim berpesan kepada para orang tua untuk lebih memberikan perhatian kepada anak. Salah satunya dengan mengubah gaya hidupnya ke arah yang lebih baik.


"Banyak yang mesti diperhatikan, misalnya olahraga secara aktif itu bagus buat semua organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan sebagainya. Kedua minum air putih," katanya.


Dr Piprim menekankan agar orang tua benar-benar menjaga asupan gula anak per harinya. Menurutnya, anak-anak saat ini sangat menyukai minuman manis dalam kemasan dan itu salah satu penyebab obesitas.


"Ketiga banyak kurangi gula, bukan hanya gula putih. Tapi minuman manis yang ada dalam minuman soft drink. Banyak banget soft drink yang pemanisnya rata-rata high fructose corn syrup (HFCS), pemanis yang manis banget," tutupnya.


Cukupi kebutuhan air putih
Pengurus Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU), dr Riza Mazidu mengatakan kasus yang dialami M Farhan disebabkan gagal ginjal. Dia mengatakan gangguan ginjal secara umum di bagi menjadi 3 faktor.


“Prerenal atau sebelum ginjal, renal atau ginjal, dan post-renal atau saluran setelah ginjal. Prerenal seperti status hidrasi, kurang cairan. Dehidrasi yang berat bisa menyebabkan gagal ginjal,” ujarnya pada Rabu (24/7/2024).


Kemudian, faktor ginjal seperti kelainan autoimun. Sementara faktor postrenal berupa batu ginjal, batu ureter dan sebagainya.


“Untuk mencegah gagal ginjal, artinya menciptakan ginjal tetap sehat harus minum 2-3 liter air putih per hari,” ujar Dokter spesialis Urologi ini.